Apotek berbasis Teknologi PayTren

Dewasa ini, perkembangan bisnis apotek tidak kalah dengan bisnis di bidang pelayanan yang lain. Berbagai strategi pun terus diasah untuk mengimbangi persaingan bisnis antar apotek. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan penghasilan atau omset yang tinggi.

Ironisnya terkadang pasien yang menjadi lumbung utama untuk menaikkan omset. Seperti harga jual obat menjadi mahal misalnya. Sehingga pasien harus mengeluarkan biaya yang lebih tinggi dari harga sewajarnya. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar. Sebenarnya jika kita cermati lebih jauh, masih banyak cara untuk menaikkan pendapatan apotek selain menjadikan omset penjualan obat sebagai faktor utama.

Di sini, kita akan memanfaatkan yang namanya teknologi. Yups, teknologi. Arus teknologi berkembang deras bak air bah dari atas bukit. Kita tidak bisa membendungnya, namun kita punya pilihan untuk menyikapinya dengan bijak. Mana teknologi yang bermanfaat dan mana yang dirasa kurang tepat.

Mari kita kerucutkan. Teknologi yang akan kita bahas adalah teknologi aplikasi berbasis internet dan operating system. Kemudian akan kita kerucutkan lagi. Adalah aplikasi untuk handphone dan smartphone. Di Indonesia per tahun 2015 menurut salah satu media survey dunia, tidak kurang 308,2 juta pengguna handphone. Dimana sekitar 62juta orang mengakses internet melalui smartphone. Inilah sebenarnya potensi yang bisa dijadikan nilai tambah untuk meningkatkan pendapatan apotek.

Sekitar akhir tahun 2013 lalu, seorang pemuda Indonesia yang sudah lama berkecimpung di dunia dakwah dan sosial, Ustadz Yusuf Mansur telah mengembangkan aplikasi bernama PayTren. Aplikasi ini berguna untuk membantu masyarakat melakukan pembayaran seperti isi pulsa, bayar PLN, token listrik, beli tiket pesawat & kereta, bayar cicilan,yang  terbaru yaitu bisa membayar iuran BPJS dan masih banyak lagi fitur di dalamnya. Pangsa pasar bisnis pembayaran (payment) sangat luas. Hanya bermodalkan HP dan biaya aktivasi untuk memiliki lisensi atau hak pakai penuh aplikasi PayTren, kita sudah bisa memperoleh fasilitas dan servis secara penuh dengan PayTren. Saat ini tidak kurang dari 600 ribu pengguna PayTren tersebar di Indonesia dan mancanegara.

Hal ini sejalan dengan konsep pelayanan di apotek, misalnya kita ambil salah satu dari fitur PayTren yaitu Pembayaran BPJS. Dengan aplikasi PayTren membuat apotek memiliki nilai tambah dalam hal pelayanan, dan tentunya dapat menaikkan pendapatan apotek. Banyak bisnis lain yang juga memberikan jasa pelayanan pembayaran. Bahkan beberapa lini bisnis, benar-benar beralih fungsi menjadi jasa pembayaran dengan konsep online payment. Salah satu fitur di PayTren bisa melakukan transfer deposit antar pengguna. Sehingga dengan fitur ini, memungkinkan melakukan pembayaran obat atau resep di apotek tanpa uang tunai. Untuk itu, sudah sewajarnya jika apotek mencoba mengambil peluang ini untuk meningkatan pelayanan lebih kepada pasien.

Penulis,

Agung Supermuda (Pharmacist & Bussiness)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.