Hidup antara mengumpulkan koin dan poin

Dalam menjalani hidup, sebenarnya kita hanya berkisar antara mengumpulkan koin dan memperbanyak poin. Maksud koin dalam hidup di sini sama halnya dengan koin di permainan Super Mario. Dalam game Super Mario, Mario sebagai petualang yang menjalani berbagai rute. Dia harus mencari koin untuk memperbanyak poin. Koin di situ sebagai sarana untuk mendapatkan poin. Oleh sebab itu, ketika koin didapatkan, koin tersebut hancur lalu berubah menjadi poin yang menjadi bekal di sepanjang perjalanannya menuju titik akhir. Jadi, Super Mario tidak membawa koin utnuk menuju ke finish, dia membawa poin.

Permainan Super Mario tersebut, coba kita kontekskan ke dalam kehidupan kita. Kita berada di dunia ini senantiasa menjalani waktu hingga titik akhir hembusan nafas kita. Tentu dalam perjalanan kehidupan kita, ada koin dan poin, sebagaimana dalam game Super Mario. Konyolnya, ada sebagian orang yang tidak mengerti tentang kedua hal tersebut, bahwa koin hanya sebagai sarana untuk mendapatkan poin. Namun, bagi mereka koin tersebut tidak djadikan sarana untuk memperbanyak poin, mereka lebih suka mengumpulkan koin saja.

Dalam konteks kita, koin hanya sebagai nilai formalitas dalam kehidupan, sementara poin adalah nilai kualitas di sisi Allah. Harta merupakan koin yang menjadi sarana untuk mendapatkan poin. Poin dari harta adalah menggunakannya untuk kepentingan dan kebaikan di jalan Allah. Semisal harta digunakan untuk nafkah istri dan keluarga, disumbangkan untuk masjid, musollah, orang fakir dan miskin, dan lembaga pendidikan atau pesantren, dan seterusnya.

Jika seseorang dilihat dari antara mengumpulkan koin dan memperbanyak poin, maka ada seseorang yang sibuk mengumpulkan koin saja tanpa memperbanyak poin. Ada yang mengumpulkan koin yang tujuannya untuk memperbanyak poin. Ada yang memperbanyak poin tanpa menghiraukan koin.

Seseorang yang sibuk mengumpulkan koin saja tanpa memperbanyak poin

Seseorang yang hidupnya sibuk dengan mengumpulkan harta tanpa menggunakannya untuk kepentingan dan kebaikan di jalan Allah, berarti dia hanya mendapatkan koin saja tanpa akan menikmati poin kelak. Orang yang seperti ini biasanya, semisal dalam dunia bisnis, sering melakukan penipuan. Tujuannya untuk mendapatkan hasil yang banyak dan takut terjadi kerugian.

Semisal juga dalam dunia pendidikan, jika seorang guru hanya memikirkan koin, dia tidak mau rajin dan serius mengajar jika tidak mendapatkan gaji yang besar. Jadi, tujuan dia menjadi guru hanya untuk mendapatkan koin yaitu uang, tidak bertujuan untuk mendapatkan poin yaitu nilai pengabdian pada ilmu yang pasti mendapat jaminan dari Allah.

Begitu juga yang marak terjadi dalam dunia politik dan jabatan pemerintahan. Mereka yang doyan korupsi karena mereka mementingkan koin. Dalam hati dan pikirannya sama sekali tidak ada impian untuk mendapatkan poin dari jabatannya. Andai kata mereka lebih memikirkan poin, tentu tidak akan melakukan korupsi.

Seseorang mengumpulkan koin bertujuan untuk memperbanyak poin

 Ada seseorang yang mengumpulkan koin, tapi tujuannya untuk memperbanyak poin. Semisal dia bekerja keras atau memiliki usaha bisnis yang besar, tapi hasil dari kerja atau bisnisnya digunakan untuk kepentingan dan kebaikan di jalan Allah. Orang yang seperti ini, dalam kerja atau bisnisnya, tidak akan melakukan penipuan untuk mendapatkan keuntungan besar atau menghindar dari kerugian yang besar pula.

Mengumpulkan sekian koin untuk memperbanyak poin merupakan sikap yang sangat mulia. Allah tidak pernah melarang kita memiliki pekerjaan yang hasilnya melimpah atau memiliki usaha yang besar. Allah hanya melarang kita melakukan penipuan, melakukan penyalahguaan harta, dan merampas atau mencuri harta orang lain.

Seseorang Yang Memperbanyak Poin Tanpa Menghiraukan Koin

Ada seseorang yang hidupnya lebih mendahulukan poin, sementara koin baginya sama sekali tidak bernilai apa-apa atau tidak menarik. Orang seperti ini selalu ingin banyak beramal tanpa melalui harta. Dia melakukan banyak kebaikan dengan bakatnya, kemampuannya, atau ilmunya. Meskipun dia bekerja medapatkan uang, hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam pikiran dan hatinya tidak pernah terbesit ingin memiliki harta yang banyak, mobil mewah, rumah besar dan megah, dan lain-lain.

Semisal dia menjadi bisnismen sukses, ketika dia menjalani bisnisnya, dia tidak pernah melakukan penipuan meski dia tahu akan mengalami kerugian. Ketika mendapatkan hasil yang melimpah, dalam pikirannya bagaimana uangnya bisa menjadi amal jariyah.

Semisal juga, jika dia menjadi seorang guru atau dosen, dia hanya berniat berbagi ilmu, berusaha mencerdaskan anak didiknya, dan mengembangkan lembaga pendidikan yang menjadi amanahnya. Masalah gaji, jika ada diterima, jika tidak ada bersabar serta meyakini bahwa Allah yang akan menjamin hidupnya.

Begitu juga, ketika orang tersebut menjadi pejabat pemenrintah, dia hanya ingin menjalani amanahnya sebagai pejabat dan akan bertanggung jawab penuh dengan apa yang menjadi tugasnya. Dia tidak pernah merasa bangga dengan jabatannya. Dia sama sekali tidak begitu menikmati dengan fasilitas yang disediakan oleh Negara. Dia selalu meyakini bahwa semua ini hanya sekedar titipan, bahkan dia beranggapan bahwa ini ujian yang harus dijalani dengan hati-hati.

(Dikutip dari: Buku NasiHati jilid I, Oleh Muhammad Taufiq Maulana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.