HUKUM TARIK MENARIK DALAM ALQURAN

Banyak sekali definisi dan cara manifestasi dari Law of Attraction yang dapat ditemukan dari berbagai sumber seperti misalnya:

  1. Bahwa pikiran positif akan menarik hal yang positif dan sebaliknya.
  2. Bahwa kekuatan attraction adalah hasil dari kekuatan kreatif dari alam semesta.
  3. Bahwa apa yang Anda pikirkan, Anda akan dapatkan.
  4. Bahwa dengan kekuatan attraction-lah yang menyebabkan terciptanya semua yang ada di alam semesta.
  5. Bahwa Anda akan menarik apa saja yang Anda pikirkan dan fokuskan.
  6. Bahwa bila Anda berpikir dan fokus pada kebahagiaan, maka kebahagiaan akan datang dalam hidup Anda.
  7. Bahwa mengisi pikiran dengan kesusahan, penderitaan akan menarik kejadian itu dalam kehidupan.
  8. Bahwa bila Anda ingin sukses, jangan sekali-kali ada  keraguan akan kegagalan timbul dipikiran Anda, karena kegagalanlah yang akan muncul.
  9. Bahwa diperlukan bukan saja pikiran, tapi juga hasrat besar akan keinginan itu agar termanifestasi.
  10. Bahwa apa yang Anda pikirkan telah terjadi dan terima saja kapan datangnya.
  11. Bahwa pikiran Andalah yang menentukan kehidupan Anda.
  12. Bahwa pikiran-pikiran yang diinginkan harus selalu diulang, ditambah dengan hasrat, perasaan agar termanifestasi.
  13. Bahwa pikiran itu adalah magnet.
  14. Bahwa energi menarik energi yang sama.
  15. Bahwa Law of Attraction terjadi dalam setiap saat kehidupan kita.
  16. Dan sebagainya.

Juga banyak buku yang menulis mengenai pengembangan diri, sebenarnya berlandaskan hukum ini. Hanya saja mereka membuat variasi yang begitu bermacam sehingga menjadi best seller dalam masing-masing kategori yang mereka pilih.

Menurut Wikipedia buku pertama paling berpengaruh di jaman modern ini adalah “As a Man Thinketh” oleh James Allen (1864 – 1912), yang dipublikasi pada tahun 1902. Walaupun di buku ini tidak ada kalimat Law of Attraction, tapi dalam banyak hal ia telah menerangkan prinsip-prinsipnya secara detail dan jelas.

Buku inilah yang menjadi pintu pembuka bagi buku-buku sukses lainnya mengenai Law of Attraction. Salah satunya adalah bukunya  William Walker Atkinson (1862 – 1932), yang menggunakan kalimat Law of Attraction, dalam buku berjudul ” Thought Vibration or the Law of Attraction in the Thought World.” Demikian juga buku dan film “The Secret”.Dengan demikian, konsep dari  Law of Attraction adalah bukan barang baru. Ia telah digunakan oleh banyak orang sukses dalam kehidupan mereka selama ini. Bahkan, sejak 14 abad yang lalu, Islam telah mengajarkan hal yang sejenis secara terbuka kepada umat manusia bukan sebagai rahasia melainkan sesuatu yang untuk disebarluaskan agar manusia mendapatkan rahmat Allah yang begitu luas.

Law Of  Attraction selaras dengan  Firman Allah dalam hadits qudsi “Aku mengikuti sangkaan hambaKu padaKu, jika sangkaannya baik maka baiklah yang didapatkan, jika sangkaannya buruk maka buruklah yang didapatkan” (HR Ahmad), serta Firman Allah “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. QS Al Mukmin: 60

Ketika umat Islam masih meyakininya secara total dan bulat, terbukti menghasilkan generasi yang paling unggul sepanjang sejarah. Bertahan kejayaannya selama lebih dari 700 tahun. Hingga ahirnya generasi unggul tersebut rapuh karena telah meninggalkan hal ini, meragukan ajaran ini. Kedahsyatan ini sudah tidak diyakini oleh sebagian besar pemeluk Islam. Karena itu mereka tidak mendapatkan manfaat kecuali hanya sebagian kecil saja yang tetap mempertahankan keyakinannya hingga kehebatannya tetap terasa hingga hari ini. Mereka itu adalah para ulama besar dan orang-orang pilihan yang memiliki tingkat  keimanan begitu tinggi kepada firman-firman Allah, baik yang ada dalam AlQur-an maupun Hadis qudsi juga hadis-hadis lainnya.

Apapun yang kita sangka dan yakini dalam benak kita akan direalisasikan oleh Allah. Jika anda meyakini bahwa anda akan berhasil maka insya Allah akan berhasil, dan jika anda risau bahwa anda gagal maka insya Allah anda juga akan gagal. Seharusnya kita mengisi benak dengan apa yang kita inginkan, kemudian melaporkannya kepada Allah, lalu berprasangka (meyakini) bahwa Allah akan merealisasikannya, maka insya Allah akan terrealisasi. Bukannya mengisi dengan kehawatiran-kehawatiran, atau keraguan-keraguan. Kehawatiran-kehawatiran akan menyebabkan apa yang kita hawatirkan terjadi juga. Keraguan menyebabkan apa yang kita inginkan tidak terwujud.

Hukum tarik-menarik adalah SUNNATULLAH, ia tidak memilih orang, siapapun mengalaminya. Ia juga tidak memandang pikiran baik atau buruk, mau atau tidak mau, ia hanya menerima signal dari pikiran anda dan memantulkannya kembali. Ketika anda fokus pada sesuatu sebenarnya anda sedang memanggil sesuatu itu untuk hadir dalam hidup anda. Ini merupakan manivestasi rahmat Allah yang berlaku untuk seluruh makhluknya, tidak melihat apapun agamanya, tabi’atnya, ketakwaannya dan maksiatnya.

Bahkan, Rusdi Rauf,  dalam bukunya Quranic Law of Attraction menjelaskan bahwa Al-Quran telah memaparkan Hukum Tarik-Menarik dengan gamblang. Coba kita perhatikan salah satu ayat berikut ini: “Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya’dia akan melihat (balasan)nya. Dan,  barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya,”   (QS Az-Zalzalah [99]: 7-8).

Ayat di atas semakin memperkuat kita bahwa Hukum Ketertarikan telah ada sejak Al-Quran diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw. Coba renungkan, selami, dan hayati maksud ayat di atas: kebaikan akaii berbalas kebaikan, keburukan akan berbalas keburukan. Betapa Allah telah mengingatkan kita untuk selalu berpikir positif (kebaikan) dan memancarkan kebaikan itu pada orang-orang sekitar kita. Hasilnya, orang-orang sekitar kita atau alam semesta akan memberikan Pula kebaikannya pada diri kita. Kebaikan dibalas kebaikan.

Allah senantiasa menganjurkan kita supaya berlomba-lomba menebarkan kebaikan (fastabiqul khairot). Allah sangat melarang kita berbuat kekasaran (sayyiaat) dan kerusakan (fasaad). Bahkan, kepada orang yang selalu berbuat jahat, kita pun harus bersikap baik padanya.

Misalnya, kita diperintahkan melawan kejahatan “dengan Cara yang lebih baik” (Al-Mu’minun [23]: 96; Fushshilat [41]: 34), berdebat “dengan cara yang baik” (An-Nahl [16J: 125). Dalam setiap detik kehidupan, kita diarahkan untukmemancarkan cahaya kebaikan dan merembetkan getaran kebajikan ke alam semesta.

Dalam ayat lain, Allah telah mengukuhkan bahwa manusia seharusnya meyakini akan adanya Hukum Ketertarikan dalam kehidupan ini. Menarik bukan?

Mari kita simak baik-baik firman Allah berikut ini: “Dia-lah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (QS Al-Mulk [671]: 15).

“Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada prang lain) sebagaimaria Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan,” (QS Al-Qashash [28]: 77).

Di manakah letak Hukum Ketertarikan kedua ayat di atas? Perhatikan penggalan ayatnya: “Dia-lah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi.” Pernyataan Allah ini didahului oleh pikiran positif. Allah memberikan keyakinan pada kita bahwa hidup ini mudah, tidak susah. Kita tidak perlu memikirkan kesusahan dalam hidup. Rasakan bahwa hidup ini mudah. Dengan pernyataan tersebut, getaran positif telah terpancarkan ke alam sekitar.

Kemudian, Allah melanjutkan firmannya: “jelajahilah!” Maksudnya, kita diperintahkan untuk berusaha dengan penuh hasrat atau keceriaan (bahwa hidup itu mudah).

Nah, dengan mengaktifkan hasrat atau rasa ceria ketika berusaha (mencari rezeki),  sesungguhnya kita telah mengizinkan kelimpahan rezeki memasuki hidup kita. Ini sangat sesuai dengan Hukum Ketertarikan.

Setelah kita berusaha dengan penuh hasrat, Allah menutup ayat tersebut dengan sikap pasrah atau penyerahan diri pada Allah (tawakkal). Saat itu, kita semakin optimistis bahwa kita akan mendapatkan banyak rezeki dalam hidup. Mungkin, hari ini kita belum memperoleh rezeki sesuai harapan kita.

Namun, kita pasrah pada-Nya bahwa Dia akan tetap melancarkan rezeki dalam hidup. Kita hanya membutuhkan keyakinan kuat dengan berpikir positif, berusaha, dan memasrahkan hasil akhir kepada-Nya. Pada gilirannya, di suatu titik tertentu, kita akan mendapatkan banyak kekayaan nikmat. Bahkan, kita pun menjadi lebih bahagia dengan kekayaan itu.

Perhatikan ayat berikutnya!

“berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat balk kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.” Sangat jelas sekali, bukan? Ada hubungan sebab akibat: kebaikan dibalas kebaikan. Dari pernyataan tersebut, sudah jelas ayat ini menguatkan Hukum Ketertarikan di alam semesta ini.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.